Degradasi sosial dalam organisasi desa hari ini bukan sekadar soal melemahnya struktur kepengurusan, tetapi tentang terkikisnya nilai yang dulu menjadi napas kehidupan desa: kepercayaan, keteladanan, dan gotong royong. Organisasi desa yang seharusnya menjadi ruang belajar kolektif dan pengabdian bersama, perlahan berubah menjadi formalitas administratif—hidup di atas kertas, mati dalam praktik.
Gejala paling terasa adalah bergesernya orientasi. Banyak organisasi desa tidak lagi berdiri sebagai alat perjuangan warga, melainkan sebagai tangga kepentingan pribadi. Jabatan dijadikan simbol status, bukan amanah. Rapat menjadi rutinitas tanpa substansi, program disusun untuk laporan, bukan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Ketika manfaat tidak dirasakan warga, kepercayaan pun runtuh, dan partisipasi pelan-pelan menghilang.



